Bukan Soal Gelar, Tapi Soal Bekal: Refleksi Pendidikan di Era Digital
Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah momen yang kembali mempertanyakan ke mana arah pendidikan kita, dan apa yang benar-benar kita harapkan pendidikan itu?
Di tengah perkembangan dunia digital yang bergerak cepat, pertanyaan itu terasa semakin mendesak. Akses terhadap pengetahuan kini tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Kursus daring, bootcamp, hingga konten edukatif di berbagai platform telah membuat akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Lanskap pendidikan telah berubah—dan wajar jika kemudian muncul pertanyaan: apa yang membedakan pendidikan formal dari semua itu?
Ketika Gelar Bukan Lagi Satu-satunya Jalan
Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) mencatat bahwa per Februari 2025, jumlah pengangguran dari lulusan perguruan tinggi mencapai lebih dari satu juta orang—angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Di sisi lain, dunia kerja juga terus berubah. Banyak perusahaan, terutama di sektor teknologi dan bisnis digital, kini lebih mempertimbangkan keterampilan praktis dan portofolio dibanding gelar akademik.
Fenomena inilah yang memunculkan narasi bahwa pendidikan formal mulai kehilangan relevansinya, bahwa gelar tidak lagi menjamin masa depan. Tapi benarkah demikian?
Yang Tidak Bisa Digantikan oleh Algoritma
Ada yang membedakan pendidikan formal—khususnya di jenjang pascasarjana—dari sekadar belajar mandiri. Bukan ijazahnya, melainkan prosesnya.
Pendidikan pascasarjana melatih kemampuan yang lebih dalam dari sekadar keterampilan teknis: berpikir kritis berbasis data, memahami konteks yang kompleks, merancang solusi yang terukur, dan menghasilkan pengetahuan baru melalui riset. Di dunia bisnis digital yang bergerak cepat, justru kemampuan inilah yang semakin langka dan semakin dicari.
Siapa saja bisa belajar cara menjalankan bisnis digital. Tapi tidak semua orang punya kemampuan analisis mengapa strategi itu berhasil, mengukur dampaknya secara ilmiah, dan merancang pendekatan yang berkelanjutan. Di sinilah nilai pendidikan formal yang sesungguhnya.
Relevansi yang Perlu Terus Diperbarui
Tantangan terbesar pendidikan formal bukan soal relevansinya, melainkan kecepatannya untuk beradaptasi dan berevolusi. Tingginya angka pengangguran sarjana bukan semata bukti bahwa pendidikan formal tidak berguna, justru menjadi sinyal bahwa ada kesenjangan antara kurikulum dengan kebutuhan industri yang perlu dituntaskan oleh perguruan tinggi (BPS, 2024).
Program studi yang relevan adalah yang mampu menjembatani kedalaman akademik dengan realitas industri. Program studi yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membekali mahasiswanya dengan kemampuan berpikir yang bertahan melampaui tren yang datang dan pergi.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unesa menghadirkan Program Studi S2 Bisnis Digital dengan kesadaran: bahwa di era teknologi yang berubah setiap waktu, yang paling dibutuhkan bukan hanya penguasaan tools terkini, tetapi fondasi analitis yang membuat seseorang tetap berdampak di tengah perubahan yang terjadi.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, mungkin pertanyaan yang dilontarkan bukan lagi soal “apakah pendidikan formal masih relevan?”—melainkan “pendidikan seperti apa yang benar-benar mempersiapkan kita untuk dunia yang terus berubah?”
Tertarik menemukan jawabannya? Bergabunglah bersama kami! Program Magister S2 Bisnis Digital FEB Unesa kini membuka Pendaftaran gelombang terakhir di tahun ini hingga 30 Juni 2026.
Jangan lewatkan kesempatan emas dan jadi bagian dari generasi yang tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi mampu berdampak lebih jauh.
Informasi lengkap dapat diakses melalui:
🔗 s2.bisnisdigital.feb.unesa.ac.id
Referensi:
Badan Pusat Statistik (2025). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2025. BPS. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/06/20/fec826c9a88adaa045a6ac9f/keadaan-angkatan-kerja-di-indonesia-februari-2025.html
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Pendidikan 2024. BPS.
***